Kamis, 21 Oktober 2010

TEKNOLOGI MASA DEPAN VS SEJARAH MASA LALU

Saat ini teknologi berkembang pesat seiring kemajuan dan tingkat kebutuhan manusia yang semakin kompleks. Mulai dari alat telekomunikasi hingga alat transportasi yang semakin lama semakin canggih dan berkembang. Keberadaannya memudahkan manusia untuk melakukan berbagai aktifitas baik dalam bekerja maupun sekedar hiburan. Segala aktifitas bisa diakses secara global dengan menggunakan internet dan hal lainnya.

Kemajuan teknologi seharusnya bisa menjadi jembatan kita untuk mengetahui sejarah masa lalu. Bagaimana kita mempelajari perjuangan dan kehidupan di masa lalu yang merupakan masa-masa emas dari kejayaan kerajaan yang akhirnya hancur, karena kurangnya rasa nasionalisme, solidaritas dan rasa persatuan dan kesatuan terhadap sesama. Seperti yang tertulis di pancasila “Bhineka Tunggal Ika” berbeda-beda namun tetap satu jua.

Kita terus saja terbuai akan budaya-budaya orang lain dan melupakan budaya kita sendiri. Kita saat ini lebih suka dengan lagu-lagu barat ketimbang lagu-lagu daerah sendiri. Bila ditanya apakah kamu bisa menyanyikan lagu tradisional kamu? Apapun itu pasti tak bisa dan tak mau tahu karena dianggap lagu orang tua. Yah, itulah kebiasaan generasi kita. Akankah lagu daerah kita akan bertahan, apabila semua generasi penerusnya tak lagi mengetahui lagu dan bahasa daerahnya sendiri? Bahkan masih banyak generasi-generasi muda yang tak tahu pencipta dari lagu-lagu nasional, apalagi untuk menyanyikannya dengan benar. Hanya waktu yang bisa membuktikan ini semua.
****************
Saat sejarah terlupakan

Bangunan patung pejuang tak lagi indah dipandang, lusuh diselimuti lumut-lumut hijau yang menghitam yang bersemai diampir seluruh permukaan bangunan. Rerumputan pun tumbuh subur diselala- sela lantai yang sudah memudar warna aslinya. Sebuah monumen bangunan bersejarah bagi masyarakat, yang dulunya merupakan kebanggaan daerahnya, kini hanya menjadi saksi bisu sejarah yang terlupakan.

Suatu kenangan masa lalu, perjuangan para leluhur yang rela mengorbankan jiwa raga, keluarga bahkan dirinya sendiri untuk meraih kemerdekaan bangsa ini. Kobaran semangat yang berapi-api tak gentar melawan para pejajah negeri, walau mati adalah ganjarannya. Semangat itu takkan pudar hingga merah putih berkibar di angkasa raya Indonesia. Rasa nasionalisme yang tinggi menjunjung tinggi kesatuan dan persatuan dalam berperang melawan penjajah, tak sedikit dari mereka yang mati dalam pertempuran.

Kita mengenal berbagai macam tokoh-tokoh pahlawan yang meninggal saat melawan penjajahan, namun apakah kita mengenal secara jelas bagaimana kehidupan mereka saat ini pahlawan yang masih hidup. Dan setelah kemerdekaan itu diraih, apa yang mereka dapat? Mereka terlupakan. Malahan yang terjadi, seringkali purnawirawan dan pejuang 45 digusur dari rumahnya sendiri diperlakukan tidak manusiawi. Apakah pantas perlakukan ini terhadap para pejuang yang telah berjasa pada negeri ini.

Dan saat monument pun dibangun tak ada perawatan dan perhaian masyarakat untuk kembali mengingat para pahlawannya. Disaat hari kemerdekaan Republik Indonesia, apa yang kita lakukan untuk para pahlawan? Hanya ada pesta rakyat, perlombaan, atau pun melakukan perjalanan rekreasi yang tujuannya untuk menghibur. Sepatah kata dari Presiden RI yang pertama Ir. Soekarno mengatakan bahwa “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.” Namun kata-kata itu tak lagi berlaku di Indonesia. Padahal bangsa ini adalah bangsa yang terbesar di Asia Tenggara, namun ternyata untuk menghargai para pahlawannya saja masih belum bisa. Malahan pada saat hari kemerdekaan RI yang bertepatan pada 17 Agustus, segelintir orang menghujat “apakah kita sudah merdeka, padahal kemiskinan dan kesejahteraan kita belum bisa ditanggulangi pemerintah?” Hal ini sangat menyedihkan bagi para pejuang kita yang sudah mati-matian memperjuangkan bangsanya untuk merdeka, namun tak dihargai begitu saja oleh segelintir orang-orang yang tak tahu arti dari sebuah perjuangan.

Kondisi seperti ini seharusnya membuat kita sadar betapa pedihnya arti perjuangan, apalagi bila perjuangan tersebut hanya sia-sia belaka. Bila kita lihat masih banyak monumen bangunan sejarah yang tak terpelihara, bangunan-bangunan tinggi pencakar langit, perumahan- perumahan elit dan banyaknya aktifitas bisnis luar negeri yang mulai menjajah bangsa ini, sehingga kita menjadi pembantu di negeri sendiri.

Sedih memang, kalau kita mengerti apa yang mereka harapkan, bukan sebuah materi ataupun sebuah penghargaan yang mereka inginkan. Hanya sebuah pengakuan dan perhatian kepada mereka para pejuang bangsa, dan mereka inginkan agar cita-cita mereka terus dilanjutkan oleh generasi penerus bangsa.

Kita dan generasi berikutnya akan menjadi buta akan betapa pentingnya sejarah, karena teknologi yang berkembang semakin pesat dan canggih, membut kita kurang memperhatikan alat-alat tradisional dan juga keanekaragaman budaya sendiri. Sampai-sampai budaya dan ke khasan daerah bangsa sendiri di klaim oleh Negara lain. Itu karena ketidakpedulian kita terhadap pengembangan budaya dan tak memperhatikan sejarah kita. Ibarat kacang lupa kulitnya, hal itu akan membuat kita kehilangan jati diri bangsa. Mungkin yang kita tahu saat ini budaya kita hanya batik, angklung, makanan tradisional, wayang, ulos, reog, tari-tarian, dan lainnya, itupun dari daerah lain. Tahukah kamu apa kebudayaan didaerahmu yang terlupakan? Banyak sekali sebenarnya yang belum kita mengerti. Contohnya seperti orang Melayu saat ini tak semuanya tahu akan peninggalan sejarah saat masih berjaya dan apa saja tradisi-tradisi mereka. Mereka malah lebih paham peninggalan sejarah yang ada di Jawa ketimbang di daerahnya sendiri dan lebih mengetahui budaya orang lain daripada budaya sendiri. Malah kebudayaan baru yang kita terapkan dalam kehidupan sehari- hari dan mengikis kebudayaan lama yang dianggap kuno dan tak modern. Hal ini merupakan perhatian yang serius bagi bangsa ini, bila tidak maka kita bangsa Indonesia tak lagi memiliki jati diri.

Kita seharusnya malu kepada bangsa ini, mengapa situs-situs sejarah kita banyak yang terabaikan dan terlupakan. Bila dibandingkan dengan Negeri Belanda yang dulunya sebagai penjajah bangsa ini, lebih menghargai jasa pahlawannya dan juga para pejuang kemerdekaan. Mereka simpati akan keuletan para pejuang kita dalam memperebutkan kemerdekaan. Sehingga dalam satu museum di Belanda terdapat berbagai macam peninggalan-peninggalan dan sejarah tentang profil para pejuang RI dan koloni-koloni yang telah berjasa pada negaranya. Dan sampai saat ini masih tersimpan baik di negeri kincir angin tersebut. Ini fakta yang kita lihat, banyak peninggalan sejarah pejuang sudah tak indah lagi di lihat, terkadang ada tangan-angan jahil yang sengaja merusak atau sekedar tandatangan agar kelihatan eksis. Hal itu menunjukkan bahwa betapa kurangnya perhatian dan kepedulian kita terhadap peninggalan sejarah.

Kurangnya sosialisasi pemerintah kepada masyarakat akan betapa pentingnya menumbuhkan rasa nasionalisme dan solidaritas kita terhadap bangsa ini, tanpa mengingat sejarah membuat kita lupa akan jati diri bangsa. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar