Minggu, 26 Desember 2010

MENCARI KEBERADAAN PLS (AKU=KITA)


PLS ? Apa itu PLS ? Mau kemana nanti kalo sudah tamat? Itulah pertanyaan yang spele ditanyakan oleh teman-teman yang masih awam kepadaku. Aku hanya bisa terdiam, tersipuh lesu, semangatku tak berbinar secerah mentari, mataku sesekali melirik ke atas kebawah, mencari-cari jawaban itu dibalik pepohonan di ujung pandangan.

Jujur aku tak pandai mengarang ataupun berorasi apalagi membual, aku cukup menjawab seperti teori-teori yang ku dapat dari kuliah, yang sama sekali belum ku pahami seutuhnya, yaitu pendidikan yang dilakukan diluar pendidikan formal yang membangun masyarakat yang kurang beruntung, kurang mampu, dan kurang mendapatkan tempat dibidang sosialnya menjadi mandiri, terampil dan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya.
PLS yang ku kenal hanya sebatas teori, yang jarang sekali ku temui keberadaan sebenarnya. Sejak itu aku mulai merasakan kegelisahan dan menimbulkan rasa penasaranku terhadap dunia PLS ini. Kalau saja aku tak bergerak mencari arti dari PLS yang sebenarnya, maka aku hanya menjadi sebagian orang-orang dungu yang beromong besar tak tau apa-apa, menanti ketidakpastian, dan hanya terus mengupat dalam hati tentang arah masa depan.

Aku tak ingin diam dan terus berpangku tangan. Aku harus mengambil tindakan, walau sekecil atau sepele apapun itu. Berusaha menemui jati diri PLS yang sebenarnya, bukan hanya teori tetapi juga dengan perbuatan. Walaupun itu hanya menguraskan tenaga, waktu, pikiran dan uang, tapi memang begitulah perjuangan dan pengorbanan yang menjadi resiko untuk belajar.

Bila ditanya mau kerja apa, dan dimana? Aku juga masih binggung, terlalu banyak bidang pendidikan non formal yang digarap PLS, sangkin luasnya tak satupun bidang yang dapat dikuasai secara rinci yang bisa dijadikan potensi. “Lah kok ditanya Mahasiswa tentang PLS, Dosen dan Ketua Jurusan aja juga banyak yang binggung?”
“Mending sekalian ambil S2 atau S3 aja klo gitu, jadi dosen!” candaku pada kawan-kawan. Intinya satu disini harus berjuang untuk mengetahuinya sendiri, bukan lagi berpangku tangan mengharap jawaban dari jurusan, dinas pendidikan, ataupun lainnya . Oleh karena itu, aku harus bisa membangun kebersamaan, kekompakan, kerjasama, komunikasi, meningkatkan kwalitas SDM sesama kawan-kawan khususnya mahasiswa, dengan cara apa? Tentunya dengan banyak membaca, berdiskusi, terjun kelapangan, membentuk kelompok belajar, berwirausaha dan bereksplorasi mencari keberadaan PLS itu sendiri.
Aku berpikir kalo SDM ku saja masih rendah, apa bedanya aku dengan orang-orang yang tidak kuliah (maaf kata lulusan SMP) yang mengelola pendidikan non formal? Malah yang bukan mahasiswa PLS terkadang lebih banyak pengalaman dan pengetahuan PLS daripada aku yang tiap hari dicekokin teori sampai bosan. Lah, tapi mereka yang gak belajar tentang PLS kok lebih pinter? (yah, kok kebalik ya?)

Aku mengerti sekarang bukan lagi saatnya berdebat ataupun mengupat dalam hati, aku harus sadar diri malu dengan keadaan yang kulalui sekarang ini. Aku harus berjuang agar tak tertinggal dan diabaikan, karena dunia terus berputar dan waktu terus berjalan tak pernah kembali. Aku sebagai mahasiswa PLS masih muda harus berpikiran lebih luas dan berfikir cerdas untuk mengatasi permasalahan yang terjadi dalam PLS itu sendiri.

Dukungan dan motivasi itu sangat aku perlukan, walaupun terkadang penuh rintangan dan hambatan. Itulah yang menjadi bumbu perjuangan ini, yang nantinya akan terasa nikmatnya kalau sudah berhasil. Sedih, tertawa, menangis, bercanda, berteriak, amarah, kesal, benci, permusuhan, persahabatan,susah, senang, bersama maupun sendirian, lelah, puas, resah, gelisah, kerja sama, semua itu akan menjadi kenangan indah di masa depan. Bahwa aku ada untuk membangun PLS itu bersama teman-teman.
Saatnya aku bangkit dari peninabobokan ini, buka mata buka telinga melihat dan medengar dunia riil di masyarakat. Aku harus bisa lakukan sesuatu bukan hanya dalam kampus saja melainkan juga dunia masyarakat yang menjadi garapan PLS. Bahwa banyak permasalahan yang terjadi atas ketidakadilan yang terjadi. Inilah yang menjadi tugas PLS untuk menyeimbangkan kesenjangan itu.

Kebanyakan kawan-kawan sibuk dengan dunianya sendiri. Masalahnya kawan-kawan tak banyak yang mau berusaha, ikhlas, tulus mencintai dan mengembangkan PLS itu. Mahasiswa yang idealis yang dulu pernah aku kenal, kini menjadi orang yang penuh perhitungan untung rugi alias materialistis.

Yang aku harapkan bukan hanya sekedar mendapatkan gelar SPd, namun aku tau dan paham apa yang didapat dan makna dari teori perkuliahan. Pengalaman dan pembelajaran itu penting, baik dalam kehidupan sosial/masyarakat maupun keluarga.
Aku ingin mengajak kawan-kawan sebagai kaum intelek menjadi orang yang kritis, idealis dan aktif, memunculkan ide-ide pembaharuan menuju gebrakan pendidikan yang gemilang. Sehingga kita tak lagi mengalami kerancuan dalam mengikuti pendidikan dan tertanam dalam hati bahwa pendidikan itu sangatlah penting. Bukan untuk mencari pekerjaan namun lebih kepada kebutuhan hidup yang penuh dengan rasa keingintahuan.
-------------------------------------------------------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar