Kamis, 21 Oktober 2010

LELAKI TUA PENJAGA SPBU

Pagi itu suasana sunyi menggerayuti indahnya mentari yang bersinar redup. Awan-awan kelam pun mengepul menyembunyikan keindahan alam seutuhnya, sesekali butiran hujan membasahi dedaunan hijau yang ada di halaman SPBU itu. Seorang lelaki tua yang selalu siap melayani konsumen untuk mengisi bahan bakar, tampak termenung sesaat menunggu konsumen berikut yang datang.

Lelaki tua paruh baya itu memakai pakaian khasnya yang berlogo pertamina dan topi merahnya yang selalu menemaninya saat bertugas. Sepatunya yang agak lusuh dan juga tanpa kaos kaki itu, sesekali digaruknya. Tubuh kurusnya dengan kumis tipis dengan lebaran uang ribuan ditangannya. Walaupun hujan gerimis saat itu, ia sama sekali tak lena dari rasa kantuknya. Dia selalu siap walaupun pelanggan tidak seramai seperti biasanya.

Pekerjaan itu dia lakukan sejak dia menikah sampai sekarang, sudah 22 tahun ia melakoni pekerjaan tersebut. Namun sampai kini masih tetap menjadi kurir pengisi bahan bakar di SPBU Pertamina. Penghasilan sehari-harinya itu dia pakai untuk mencukupi 4 orang anaknya yang masih bersekolah. Kini dua anaknya kuliah di perguruan tinggi swasta di Medan dan yang dua lagi masih SMA dan paling kecil baru masuk SMP.

Banyak pengalaman yang ingin di utarakannya sejak melakoni pekerjaan tersebut, mulai dari jam kerjanya yang selalu di SPBU hingga masalah anaknya yang sakit. Dia juga tak bisa meninggalkan pekerjaannya. Karena SPBU setiap hari kerja dan hanya diberikan libur satu hari saja dalam seminggu. Hal ini terkadang sulit baginya untuk mengunjungi sanak saudara ataupun bercengkrama dengan keluarganya. Dua belas jam perharinya disita untuk melayani konsumen dan setengahnya untuk istirahat dan sekedar melepas lelah bersama anak istri. “Bapak sudah terlanjur cinta dengan pekerjaan ini, walaupun kadang-kadang bosan juga, tapi ginilah kalo gak kerja mau makan apa anak binik bapak,” ucapnya.

“Adanya pelatihan dengan mendapat sertifikat dari pertamina membuat kerja kami semakin professional dan sekarang alatnya juga canggih, tidak seperti dulu yang memakai sistem manual, sekarang otomatis jadi perlu bagi kami untuk mengikuti pelaatihan dan sertifikasi karyawan, kini di SPBU ada juga hiburan seperti music dan TV mini. Fasilitas lebih lengkap seperti kamar mandi, mushola dan ruang istirahat. Membuat kami nyaman saat beristirahat sejenak melaksanakan ibadah dan makan,”tambahnya.

Tak panjang wawancara ini saya lakukan karena lelaki tua pegawai SPBU ini, Saya pamit melanjutkan perjalanan karena beberapa mobil sudah mengantri di posnya untuk pengisian bahan bakar. Senyumnya ramah kepada pelanggan dan bertanya “pagi pak, mau ngisi berapa?” Tangannya yang siap pun meraih tangkai selang bensin dan memencet tombol digital untuk mulai mengisi bahan bakar. Dengan menjunjung tinggi komitmen dan moto “Pasti Pas.” Mulai dari nol ya pak. Kata-kata itu sudah menjadi kebiasaannya setiap hari melayani pelanggan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar