Oleh Eko Haryanto
Lancang kuning… lancing kuning berlayar malam…
Begitulah kira-kira nyanyian yang selama ini aku dengar di radio dan saat hiburan nyanyian undangan pesta perkawinan. Tak terbayangkan sekarang aku sampai di kota ini, kota yang dikenal sebagai penghasil kelapa sawit dan tambang minyak bumi terbesar di Indonesia.
Tak seperti kota Medan yangbanyak polusi dan arus kenderaan macet serta hiruk pikuk dengan berbagai aktifitas. Kota Pekanbaru terlihat lengang dan kenderaan tidak sepadat kota Medan. Orang-orang disini yang mayoritas bersuku Melayu dengan logat khas dan ramah tamah. Hal ini membuat aku merasa penasaran dan ingin tahu kondisi sebenarnya di kota Pekanbaru yang sama sekali belum pernah ku kenal dan jajaki.
Aku mengikuti Diklat Jurnalistik Tingkat Mahasiswa Lanjutan (DJTML) Se-Sumatera, mewakili PERS MAHASISWA KREATIF Unimed bersama seorang teman dekatku, Rudi Hartono Saragih. Mungkin kalau dilihat dari peserta, kami berdua saja yang berasal dari Sumatera Utara. Merupakan kehormatan dan keberuntungan bagi kami saat lulus mengikuti diklat ini. Pesertanya dibatasi oleh panitia hanya 20 orang.
Berkenalan dengan peserta yang berasal dari Pers Mahasiswa (Persma) se-Sumatera, menjadi kebanggaan tersendiri bagiku. Baru pertama kali ini aku ikut dalam pelatihan di luar provinsi. Sungguh hal yang amat luar biasa kehebatan analisis dan keintegritas kawan-kawan dalam bidang jurnalistik. Aku sebenarnya juga merasa minder karena merasa dibawah kemampuan standar kawan-kawan, yakni mereka yang lebih banyak berargumen dalam menyampaikan ide-ide inovatif. Sama sekali tidak pernah terpikirkan selama aku menjadi wartawan kampus.
Diawali pembahasan cara membuat feature, mendalami narasi maupun tentang profil serta yang lainnya. Disampaikan oleh Mas Budi Setyono, lulusan Universitas Negeri Semarang (UNS). Dia merupakan sekretaris yayasan PANTAU, media cetak yang ternama di ibukota Jakarta. Beliau memang sangat berpengalaman dan apik dalam jurnalistik. Selama hampir dua jam setengah atau setara dengan empat SKS dalam perkuliahan di kampus, beliau menyampaikan materi setiap pelatihan.
Dengan memperhatikannya secara seksama dan membuat catatan kecil untuk hal- hal yang penting, sesekali aku menggarukkan kepala karena kurang memahami dan tak mengerti. Dalam hati hendak bertanya namun tak tahu ntah mau bertanya apa. Karena menurutku materi tersebut kurang menantang dan hanya bersifat teori. Ditambah lagi angin sepoi-sepoi dari kipas angin dibelakang, menghanyutkan aku dalam suasana kantuk.
Sesekali beliau melirik aku dengan senyumnya yang khas, seolah memberi isyarat agar memperhatikan dan mendengarkannya. Untuk menghilangkan rasa kantuk dan bosan, aku pun mengeluarkan handycam, merekam momen dan penyampaian materi yang diberikan. Aku merekam satu persatu kawan-kawan peserta diklat dan juga Tutor, berharap agar mengingatnya kembali setelah pulang nantinya.
Pelatihan terus berlanjut hingga sore hari, sesi demi sesi dilewati dengan berbagai tanya jawab dan diskusi bersama, mungkin hanya sebagian kecil yang dapat aku tangkap. Itu sudah cukup baik daripada tidak ada sama sekali. Dan mudah-mudahan nantinya ilmu yang aku dapat ini berguna bagi kemajuan aku sendiri maupun orang lain.
******
SAAT SEHABIS PELATIHAN
Para peserta berhamburan keluar saat pelatihan selesai, sibuk dengan aktifitas masing-masing. Ada yang sholat, ada yang kekamar mandi, ada yang menonoton TV, ada yang sibuk bercerita dengan pengalaman-pengalamnnya selama di organisasi dan lainnya.
Kejenuhan saat pelatihan membuat kami ingin resfreshing dan jalan- jalan mengitari kota Pekan Baru. Dengan berjalan kaki bersama-sama, kami pun berbondong-bondong pergi ke tempat tongkrongan sore orang-orang Pekan Baru.
Sebuah taman Kota yang sangat bagus potensinya dan banyak pengunjungnya. Terlihat di sana banyak muda-mudi yang sedang memadu kasih, memancing ikan di kolam taman, jalan-jalan santai keluarga dan lainnya. Tempat ini sungguh disayangkan karena terlihat kurang terawat dan kurang diperhatikan kebersihannya.
Beberapa tempat lain seperti Pustaka Wilayah Riau, Kantor Gubernur Provinsi Riau, Masjid Raya, MTQ dan tempat-tempat yang terbaik di Kota Lancang Kuning Pekanbaru, Riau. Pembangunan semakin gencar dilakukan Pemerintah Provinsi Riau, mempersiapkan HAORNAS PON ke XVII pada tahun 2012. Sama juga dengan kampus UNRI (sekarang menjadi Universitas Riau) sedang dalam proses pembangunan dengan konsep kampus di dalam taman. Membuatnya tampak asri dan alami ditumbuhi berbagai pepohonan yang rindang.
Berbagai aktivitas kami lalui bersama, dengan handycam aku terus mengabadikan setiap momen yang ada.
****
Malam harinya, materi membuat profil salah seorang teman sekamar. Membuatku tertantang untuk menuliskan sedikit kemampuan menulisku. Aku pilih salah satu teman sekamar asal Palembang. Dia sudah berpengalaman, seorang yang kritis, hobi music dan suka berpetualang, perjalanannya sudah hampir mengelilingi kepulauan nusantara dan sudah pernah berangkat ke singapura karena prestasinya. Rambutnya keriting awut-awutan mirip keyboardist band nidji dan paras wajahnya mirip sang vokalis armada band membuatku sesekali tersenyum geli. Dia seorang penulis muda berbakat di kampusnya dan dipercaya memegang tanggung jawab sebagai Pelaksana Usaha di LPM Ukhuwah IAIN Raden Patah Palembang. Dia bernama Iwan Christian, kelahiran Palembang 16 Juni 1990. Berdomisili di kota Palembang, yang terkenal dengan makanan khas mpempeknya.
Iwan begitulah nama akrabnya, kuliah semester IV Jurusan Pendidikan Agama Islam di IAIN Raden Patah Palembang. Ia sangat hobi dalam bermusik, karya-karyanya sudah popular di Kotanya. Prestasi manggungnya sudah beberapa kali meraih penghargaan, antara lain Juara pertama music jazz se-Kota Palembang, juara pertama music indie se-Kota Palembang, dan lainnya.
Tingkah khas dan gaya bicara humoris membuat ia mudah bergaul dengan orang lain yang baru dikenalnya. Dia juga tak pernah segan melontarkan senyuman dan gurauannya sehingga orang-orang senang didekatnya. Ada kesamaan hobi antara kami berdua, membuat kami cocok untuk melakukan wawancara. Setelah mengenal dia lebih dalam, membuat kami berdua semakin akrab.
****
Langit kelam menyelimuti bumi, seolah ingin melampiaskan kesedihannya. Menjatuhkan rintik-rintik air ke bumi. Sedikit demi sedikit hingga akhirnya deras menghujam, bagaikan pedang menghunus tanah. Kami hanya bisa terpaku di dalam ruangan, menunggu reda alunan air. Setelah beberapa saat hujan pun reda, kami putuskan untuk beranjak ke perpustakaan wilayah (Puswil) Provinsi Riau, untuk melihat bagaimana megahnya bangunan tersebut. Di dalamnya terdapat ribuan buku dan fasilitas yang mendukung, seperti wifi, video, dan lainnya.
Perjalanan dari wisma hingga ke Puswil berjarak kurang lebih 1km. Tanpa terasa kami lalui bersama tanpa lelah. Di sepanjang jalan bercerita dan bercanda gurau. Sesekali mengabadikan panorama yang ada disekitar.
Bangunan yang berbentuk huruf ‘y’ tersebut, menggambarkan sebuah buku yang sedang terbuka. Hal tersebut membuatku merasa unik, terkagum-kagum. Filosofinya adalah sebuah buku yang terbuka lebar dan siap untuk dibaca bagi siapa saja. Tak heran, pengunjung tak pernah sepi mendatangi perpustakaan ini.
*****
Perjalanan ke Pabrik Minyak Mentah (Chevron)
Kamis (27/5), Sebuah bus mengantar kami menuju perjalanan wisata ke Chevron (Perusahaan minyak mentah) Minas, Riau. Agenda perjalanan yang sudah dipersiapkan oleh panitia DJMTL Bahana Mahasiswa UNRI.
Sepanjang jalan terlihat rawa dan perkebunan sawit. Tak ada pemandangan yang menarik di sepanjang perjalanan. Tanah gersang dan pipa-pipa penyalur yang menemani perjalanan. Bisa dimaklumi karena daerah ini terkenal dengan penghasil minyak bumi.
Hasil bumi dieksploitasi secara besar-besaran, meraup keuntungan tanpa melihat dampak yang ditimbulkan dari pertambangan. Tanah tak lagi subur, air bersih yang jarang di jumpai, dan suhu udara yang semakin panas.
PT. Chevron Indonesia, salah satu perusahan terbesar dan ternama di Asia Tenggara. Perusahaan minyak dari Amerika yang bekerjasama dengan Indonesia, untuk mengolah dan mengeluarkan minyak mentah dari perut bumi. Sudah 86 tahun dipercaya melakukan pertambangan minyak di Minas, Riau.
Keamanan dan keselamatan kerja sangat diperhatikan. Bagi pengunjung pun tak boleh sembarangan masuk begitu saja. Harus melalui prosedur surat masuk dan keamanan yang ketat. Apabila memasuki daerah kawasan pertambangan, diberikan alat keselamatan berupa sepatu, helm, dan kaca mata oleh perusahaan untuk menghindari resiko di lapangan.
Sambutan hangat dan akrab kami rasakan saat kami berada disana. Mereka memperkenalkan berbagai pengetahuan tentang perminyakan. Bagaimana cara mengangkat minyak mentah keluar perut bumi, memaksimalkan hasil pertambangan, titik-titik sumur minyak, dan lainnya. Sehingga kami mengerti apa yang dilakukan oleh PT. Chevron di tanah melayu ini.
Sesampainya di daerah pertambangan, terdapat tabung-tabung raksasa, pipa-pipa kekar menghujam bumi, alat-alat berat menambang minyak dan berbagai aktivitas lainnya. Tanah gersang tanpa tumbuhan, dan partikel debu yang menerpa. Dari kejauhan terlihat pipa obor yang menyemburkan api tanpa henti. Kami pun disungguhkan dengan berbagai macam peralatan dan pengarahan oleh instruktur perminyakan. Namun, tidak kami tanggapi lebih dalam. Karena kami sibuk dengan kesenangan sendiri yaitu pemotretan.
Matahari semakin terik, tepat diatas kepala. Panasnya menggarang membuat gerah dan peluh. Hanya sebentar kami di sana karena perut sudah keroncongan. Setelah pengarahan dan pemberian materi, kami pun berangkat untuk makan siang di sebuah rumah makan bagi karyawan PT. Chevron yang bertuliskan Rumah Makan Sederhana Rumbai. Terlihat mewah karena arsitekturnya yang indah dan simple.
Di rumah makan itu, kami pun segera melahap hidangan yang tersedia. Ditemani oleh kicauan burung liar yang ada di hutan asri tepat di belakang rumah makan. Suasana menjadi natural saat kami menyaksikan langsung burung dan musang yang sedang berkeliaran di atas pohon. Sungguh menakjubkan, ditengah kawasan pabrik masih ada hutan liar yang asri seperti ini.
Setelah makan dan berbincang-bincang, waktu pun beralih menjadi jadwal pelatihan berikutnya. Dengan mata sayu dan perut kekenyangan kami pun mengikuti pelatihan itu. Sesekali mata terpejam dan tersentak karena takut ketahuan oleh pemateri. Maklumlah ruangan ber-AC. Materi demi materi diberikan, namun hanya sedikit saja yang tercerna itupun sudah lupa. Yah, sudahlah baca saja lagi materinya, ntar ingat lagi.
Setelah materi selesai, kami pun beranjak pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Tak terasa waktu terasa cepat berlalu. Kami pun pulang dengan letih dan kegembiraan yang luar biasa, seharian sudah berkeliling di perusahaan terbesar di Asia Tenggara. Dan kami juga mendapat souvenir dari PT. Chevron, mudah-mudahan berguna nantinya.
*****
Teleju, Nikmatnya Pekanbaru
Tidak terbayangkan sebuah perkampungan di suatu daerah terpencil di Pekanbaru, menjadi daerah lokalisasi para wanita tunasusila. Terletak di Jalan Karya Bersama, RW 15/16 Kec. Telayan Raya, Pekanbaru. Sudah bertahun-tahun tempat ini legal untuk melakukan prostitusi.
Rumah-rumah yang tak mewah tersusun rapi, berdindingkan kayu lapuk tanpa daun jendela ataupun pintu, selalu terbuka lebar bagi siapa saja untuk bertamu. Di dalamnya terlihat wanita-wanita yang berpakaian ‘setengah jadi’ dengan make-up tebal dan lipstick yang menggoda. Mereka menyungguhkan panorama indah mengusik hasrat dan nafsu bagi lelaki yang tak kuat iman.
Satu perkampungan melakoni pekerjaan yang sama, melakukan prostitusi untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Mereka berasal dari luar daerah bahkan adanya di luar pulau Sumatera. Mayoritas penduduk di sana suku Jawa. Mereka sudah bertahun-tahun tinggal di sini, sehingga terbentuklah kampung Teleju yang dikenal sebagai tempat prostitusi.
Tak seperti Bandar Baru yang ada di Berastagi, melakukan prostitusi di wisma ataupun penginapan. Di Teleju, rumah menjadi tempat penawaran, pertemuan dan melakukan prostitusi. Di dalam satu rumah terdapat 7-10 kamar dengan tarif yang bervariasi, mulai dari Rp100.000 hingga Rp800.000 tergantung durasinya.
Di kampung itu, ruang dan waktu tanpa terasa. Karena 24 jam terbuka, selalu siap melayani pelanggan yang datang. Semuanya terlihat seperti pameran bazaar seks bebas. Hal itu, terlihat biasa saja bagi penduduk yang ada disekitar. Namun hal yang luar bisa bagi kami yang pertama kali berkunjung ke daerah itu untuk melakukan wawancara dan observasi, membuat tulisan feature “human interest”.
Ada isu yang menyebutkan bahwa daerah lokalisasi itu akan digusur pada bulan September 2010. Hal ini sudah dikonfirmasi kepada Ramlan, Kepala Desa Teleju. Dia mengatakan,”tanda SDB (sudah dibayar) merupakan tempat yang harus dikosongkan segera, dan sudah diberikan ganti rugi oleh pemerintah.” Surat-surat edaran penggusuran pun banyak tertempel di setiap sudut rumah-rumah.
Pengosongan tempat ini, membuat para penduduk yang berprofesi sebagai PSK mulai resah. “Tidak tahu mau kemana lah mas kalo digusur nanti, paling pun pulang kampung itu pun kalo dapat ganti rugi,” ujar salah seorang PSK yang tinggal di situ.
“Dulunya banyak PSK di sini, namun setelah surat edaran penggusuran pada September mendatang, banyak yang meninggalkan tempat ini, pindah ke tempat lain,” ujar seorang lelaki tua dengan sepuntung rokok yang berada di sebuah warung di sekitar lokalisasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar