Minggu, 31 Oktober 2010

Si Bungsu yang Malang

Desa Sidomulyo adalah pemukiman kecil sekitar stasiun kereta api Padang Halaban. Ia memiliki bangunan tua peninggalan zaman Belanda. Stasiun kecil, antara Medan – Rantau Prapat ini, ramai tiap 2-3 jam sekali, saat kereta berhenti.

Di kiri stasiun terlihat gereja dan di kanan terdapat mesjid. Mayoritas penduduk Jawa dan Batak. Tepat depan stasiun terdapat warung kecil, di sebelah jalan kecil. Menelusuri lebih dalam, jalanannya becek karena hujan terlalu deras kemarin malam.

Di sebelah warung tersebut, sebuah rumah tua berdinding setengah papan dan beratap seng berwarna coklat kemerah-merahan. Cat dinding sudah tak jelas warnanya, putih, kuning, atau coklat. Rumah tua, berukuran 6 x 8 meter, bersemai lumut-lumut hijau menggerogoti dinding papan. Di halaman rumah terdapat beberapa pohon sawit yang ditumbuhi rumput menjalar, dan semak-semak di belakang rumah sudah setinggi anak usia 3 tahun. Daun pintu dan jendela terbuka, sesekali tertutup ditiup angin. Di dalam rumah tampak suram dan gelap, seperti gudang yang tak terawat saja. Awalnya saya berpikir rumah ini angker atau tak berpenghuni.

Ketika mendekati rumah tersebut, saya terkejut, dari samping pintu rumah belakang berdiri wanita tua, memakai baju hitam, berambut ikal acak-acakan, pipi keriput, tubuh kurus tanpa alas kaki, dekil dan agak berbau lumpur. Pandangan kosong, mata merah dan kelopak mata pucat. Dia acuh dan diam saja, tak peduli orang lain yang lalu lalang didepannya. Saya menyapa, tapi tak menyahut dan kembali ke dalam rumah dengan menyeret kaki ke lantai.

Tetangganya, kebetulan sedang berkumpul menyisik lidi, menjelaskan bahwa dia bernama Ganda Pangabean. Dia itu sudah tak waras, akibat despresi. Orang tua dan abangnya meninggal saat dia SMP. Rasa sedihnya yang mendalam membuat dia menjadi pendiam, pemarah phobia, dan sering melamun. Usianya kurang lebih 45 tahun, ia orang Batak marga Pangabean, anak paling bungsu dari tiga bersaudara. Dulu keluarganya, orang terkaya di desa ini . Tanahnya lebar, sawitnya banyak dan usaha jualannya lumayan maju. Keluarganya berubah saat ayahnya memiliki istri lagi. Tak banyak yang tahu asal usul keluarga, ia penduduk lama.

“Ini dulu kebelakang punya dia semua,” ungkap Opung Hutasoit, telunjuknya menunjukkan arah ke ujung jalan.

Setelah orang tuanya meninggal, harta kekayaan dikuasai ibu tirinya, sebagian dijual dan sebagian lainnya dibiarkan. Ibu tirinya memilih pergi meninggalkan mereka.Tak tahu dimana ia pergi melarikan harta kekayaan keluarganya.
Anak pertama yang mengurus kedua adiknya. Setahun berselang abangnya pun meninggal menyusul iIbu dan ayahnya. Hanya peninggalan rumah dan sepetak tanah yang tidak dijual, sebagai tempat tinggal si abang dan adik. Si bungsu semakin buruk dan mentalnya semakin terguncang. Bila saja saat itu ada yang memperhatikannya, mungkin dia tak seperti sekarang ini.

Dia tinggal sendirian di rumah tua itu. Dulunya dia tinggal satu rumah dengan abangnya. Setelah berkeluarga, abangnya memilih pindah. Karena emosinya yang labil, terkadang tertawa, berteriak dan menangis tanpa alasan, mengusik ketenangan keluarganya. Rumah mereka terpisah, jaraknya hanya 100 meter.

Sehari-hari dirawat kakak iparnya seperti mandi, mengganti bajunya, memberi makan dan juga menjemputnya bila dia belum pulang, saat hari sudah mulai gelap. Tapi tak jarang sering dibiarkan, karena sering payah kalau dimandikan atau disuruh makan.
Tak ada masyarakat yang memperdulikannya. Dia sering mondar-mandir di stasiun, tak tahu apa yang dilakukannya. Sekilas dia normal-normal saja, banyak orang mengira ia gelandangan atau pengemis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar