Selasa, 02 November 2010

Lampu Merah Perempatan Unimed

Siang itu, matahari tak begitu panas dan langit pun diselubungi awan putih. Di perempatan jalan Williem Iskandar – Unimed kenderaan agak lenggang. Di tiap sudut jalan, sebatang besi berukuran empat meter dan tiga batang besi berukuran setengah meter dengan diameter 10 cm tertancap dengan semen beton yang menjadi pondasi agar tertancap kokoh. Rencananya di perempatan jalan ini akan dipasang lampu merah (traffic light).

Kuas kecil berukuran 2 inchi menari naik turun di tangan Pak Harun seorang tukang cat, melumuri cat kuning pada batang besi. Sesekali keringat menetes dari dahinya, karena matahari sedang dipuncak ketinggian. Berdiri di atas tangga bukanlah perkara gampang untuk mengecat besi, agar tak bergoyang besi tangga dipegangi oleh Ali kawan sepropesinya. Canda gurau pun kerap kali melepaskan tawa, mengurangi rasa penat dan peluh sesaat. Saat itu aku mendatangi mereka, menanyakan apa yang mereka kerjakan.

“Kapan tiang-tiang ini dipasang, pak?”

“Oh, dah dari hari Minggu kemaren”

“Mau buat lampu merah ya pak?”

“Kapan mulai beroperasi lampu merahnya, pak?”

“Oh, ya. Minggu depan juga sudah hidup dek”

“Proyek darimana ni pak?”

“Dari Dinas Perhubungan Deli Serdang”

Setelah selesai mengecat sebatang besi empat meter, keduanya kemudian beristirahat. Pak Ali menegak sebotol aqua 600ml dan pak Harun menyalakan rokok sempurna kemudian dihisapnya dalam-dalam. Mereka beranjak mengambil bungkusan plastik berisi nasi bungkus, melahapnya di bawah pohon rindang. Aku pun segera bergerak ketempat lain, untuk dokumentasi hasil liputan.

Di seberang jalan, di depan tulisan Universitas Negeri Medan terparkir mobil pick up traffic light. Seorang pria dengan handphone menempel telinganya, asyik berbincang dengan temannya. Dari jaketnya, kelihatan ia seorang teknisi lampu merah (traffic light). Penasaran aku pun menghampirinya dan bertanya-tanya soal lampu merah.
Bapak Iim begitulah panggilannya sehari-hari, seorang teknisi lampu merah asal Bandung. Ia sudah lama menangani system lampu merah di kota Medan sejak tahun 1993 silam. Lampu merah model gantung dengan mode detik automatis akan dipasang di perempatan Unimed. Traffic Controller Microprocessor akan dipasang dua hari lagi, menunggu bahan dan peralatan yang dikirim dari Jakarta. Proyek lampu merah sendiri memakan biaya yang lumayan besar. Ada empat lampu merah yang akan dipasang, semua akan diatur dalam kotak control.

“Peran lampu merah memang penting menggantikan posisi polisi lalu lintas, ia pemandu saja, bukan sebagai alat yang bisa diandalkan sepenuhnya untuk mengatur lalu lintas. Harus ada peran Polisi Lalu Lintas dalam mengawasi dan mengatur laju kenderaan agar menghindari kemacetan dan kecelakaan. Seringkali pengguna jalan mengabaikan lampu merah kalo tidak ada polisi, ugal-ugalan menerobos lampu merah adalah tindakan yang membahayakan dan salah. Bisa saja dari sisi lain melaju tiba-tiba dan tanpa sempat mengerem, menyerempet atau menabrak anda seketika,” jelas Bapak dari tiga orang anak ini.

Aku pun bertanya kepada mahasiswa yang kebetulan lewat jalan itu, Rahmadhani mahasiswa Fakultas Ekonomi Unimed, tentang tanggapannya.

"Bagaimana pendapat anda tentang pemasangan lampu merah disini?"

"Bagus bang, biar teratur dan gak buat macet"

Lain juga jawaban dari Dones Pasaribu.Dia kurang setuju, alasannya klasik, adanya lampu merah makin banyak razia. Di wilayah kampus dan sekolah, pengendara sepeda motor jarang menggunakan helm.

Banyak pro dan kontra di masyarakat, khususnya mahasiswa dan pelajar tentang pemasang lampu merah. Kebijakan pemerintah daerah dalam mengentaskan problema lalu lintas wajib didukung. Namun semua tak terlepas dari kesadaran masyarakat dalam mematuhi rambu-rambu lalu lintas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar