Sinar senja seakan menyilaukan mata, tanpa disadari sudah
pukul 5 sore. Sejak siang aku sudah tak sabar untuk menantikan kehadiran
kawan-kawan dari Medan. Rencananya malam ini, mereka akan menjemputku,
berangkat berkeliling Danau Toba.
Sambil menunggu, aku ikut bantu-bantu usaha cuci sepeda
motor yang ada di kost ku. Lumayan juga hari ini, ada banyak pelanggan.
Maklumlah inikan malam Minggu, biasanya kaula muda sudah sibuk berdandan untuk
persiapan menjumpai sang kekasih. Sepeda motorku ikut mandi dan kinclong untuk
perjalanan nanti.
Tanpa terasa waktu sudah mulai magrib, aku bergegas untuk
segera mandi. Dan mempersiapkan pakaian selama perjalanan nanti. Ibu kost yang
sedari tadi memperhatikanku, senyum lugu dan sambil berkata, “Jangan sampai ada
yang ketinggalan, hati-hati nanti dijalan.”
Ransel diisi oleh pakaian, handuk, sampo, sikat gigi, charger,
buku, dan makanan. Bekal itu sangat dibutuhkan, saat perjalanan jauh menuju Danau Toba.
“Rencananya berapa hari kamu disana dek” tanya bang Rudi,
sang pemilik kos.
“Dua hari saja bang, mungkin senin pagi sudah balik ke
Sergei”
“Kemana rutenya ? kok malam piginya gak besok pagi aja
kalian berangkat?”
“Lebih seru malam bang, gak padat kali jalanan”
“Dah sampe mana kawan-kawanmu itu? Smslah dulu dimana posisi orang tu.”
“Ya bang, mereka sudah sampe pakam, mungkin setengah jam
lagi nyampe”
“Ya, udah makan dulu sana” sahut Kak Santi, istri bang
Rudi.
Sambil menunggu, aku makan malam
lebih awal pada sore itu. Saat magrib tiba, aku segera sholat dan sembari
berdo’a agar tidak terjadi apa-apa saat perjalanan nanti.
Selang beberapa menit, hapeku berbunyi dari ruang tamu, masih berjuntai charger,
diatas speaker tango, ia bergetar keras. Ku sambut dan langsung ku baca, “Ko,
kami sudah di Lapangan Firdaus sekarang lagi sholat magrib di mesjid.” Lalu ku balas, “Tunggu yah, aku segera
kesana.”
Aku pun lekas bersiap memakai
jaket bulu ku seperti jaket orang Rusia. Kemudian beranjak pergit, tak lupa
pamitan dengan abang dan kakak kos. Minta do’anya dalam perjalanan agar tidak
terjadi kecelakaan ataupun lainnya yang tidak di inginkan. Perlengkapan sudah
siap dari sore, menantiku bersama sepeda motorku. Ku sambut mereka dan lalu
tancap gas menuju kawan-kawan.
Jarak kos ke simpang jalan besar
sekitar 6 km ditambah lagi kondisi jalanan yang masih penuh lubang dan lumpur,
sehingga butuh waktu 15 menit untuk menempuhnya. Mereka terus saja menghubungi
aku, kenapa lama sekali. Aku tak menyahuti, terus focus pada jalanan yang aku
tempuh.
Aku berjumpa dengan mereka di
depan masjid Al-Mutaqqin Firdaus - Sei Rampah. Tak seperti yang kukira, ternyata
banyak yang ikut rupanya, ada Dani, Arul, Rudi, Irsad, Ayu, Naria, Diah dan
Rinda. Dan empat sepeda motor sudah nampang di parkir mesjid.
Sebelum berangkat, kami
berdiskusi dahulu. Rute perjalanan yang akan ditempuh, sasaran kota pertama
yang dikunjungi adalah Siantar dan Sidamanik.
Diperjalanan kami berkonvoi,
sesekali canda dan gurau suara klakson dan gas yang bergeber. Tanpa terasa kami
sudah di Tebing Tinggi. Namun di tengah perjalanan dari tebing menuju siantar,
kami disambut gerimis. Segera mantel hujan kami pasang, dan kami bergerak lebih
cepat dari kecepatan kami awalnya.
Aku yang sendirian naik sepeda
motor lumayan menggigil, tidak seperti kawan-kawan yang saling berboncengan. Tangan ini terasa beku, gigi bergetar dan
bokongku sudah seperti triplek.
Kami tetap melakukan perjalanan,
tak peduli yang penting kami harus sampai ke Sidamanik malam ini. Karena tak
ada yang bisa nginap di Siantar, memang perjalanan gila malam ini.
Ku lihat wajah Nasria yang pucat
dan mengepal jemari tangannya, bibirnya tak merah lagi, matanya yang sayu
menahan dinginnya malam itu. Setiba di Siantar waktu menunjukkan pukul 11.30
malam, jalanan legang. Gelap gumpita jalanan di tengah perkebunan karet,
membuat laju sepeda motor semakin terdepan.
Sampai di kota Siantar, kami tidak lagi berkeliling karena sudah larut malam. Kami putuskan untuk lanjut ke Sidamanik. Dengan kecepatan penuh melaju menebas sungai di tengah jalan. Jalanan semakin angker, saat memasuki jalanan kecil menuju Sidamanik. Semakin kedalam, semakin gelap. Rumah penduduk semakin jauh, kami berada di tengah ladang jagung dan sawah penduduk. Di samping jalan terdapat pohon-pohon besar dan ilalang yang sudah berwarna coklat.
Gerimis mereda dan bulan pun
mulai nampak dari peraduannya. Jemari pun segera mengambil hape untuk update
status di facebook. Beberapa kali aku masuk lubang, karena tidak memperhatikan
jalan. Kami pun merendahkan gas kami dan menikmati malam itu hingga sampai ke
tujuan utama kami, yaitu penginapan di rumah Rudi.
Sesampai di Sidamanik, para
wanita merebahkan badan dan menyelonjorkan kaki dikursi, sehingga aku dan
sebagian kawan yang lain tak kebagian tempat duduk. Aku segera mengganti bajuku
yang basah, dan sebagian lainnya sudah mempersiapkan memasak air dan indomie
yang memang sudah dibawa dari Medan.
Waktu menunjukkan sudah pukul 1
pagi. Wah, gak terasa waktu cepat berlalu. Sebelum tidur kami makan dulu dan
nge-teh. Aku baru ingat berita hari ini ada gerhana bulan tepat pada pukul 2
pagi, namun karena kami kelelahan tak satupun dari kami yang menyaksikan
peristiwa langka itu.
************
Keesokan
harinya.
“Woi, bangun bangun udah siang
ni”
“Sarapan-sarapan”
Aku pun terbangun, pas kali ku
rasa perut lapar langsung makan. Waktu menunjukkan pukul 8 pagi, setelah
sarapan kami pun kembali berdiskusi menentukan agenda berikutnya.
Kami putuskan untuk ke perkebunan
teh bahbutong lebih dahulu, menyaksikan sunrise di bukit-bukit perkebunan teh.
Berfoto-foto dan memetik teh langsung dari pohonnya. Momen ini tak ingin
dilewatkan dengan berfoto didepan plang besi tua bertuliskan perkerbunan
bahbutong. Sebelum beranjak aku ambil anak pohon teh dan juga buahnya yang
nantinya akan ku tanam di Medan. Kami juga singgah ke toko tempat pengolahan
teh tradisional di Sidamanik, sebagai oleh-oleh nantinya.
Setelahnya, mandi di sumber (mata
air). Kami pun beranjak kesana dengan perlengkapan mandi lengkap. Sumber yang
berada di balik ladang kopi dan pohon-pohon besar menambah naturalnya
keindahannya. Air yang menyumbul dari sela berbatuan dan air yang tenang
mengalir lembut dan jernih, sehingga kita dapat melihat pasir dibawahnya.
Rugi rasanya kalau tidak mandi.
Aku, Arul dan Irsad sudah tak sabar ingin nyemplung. Bak penyelam professional
hanya memakai celana bola, kami meloncat, “hiyyyaa, byurrrr. Brrr, adem
benerr!”
Rudi, Dani, Diah, Rinda, Ayu dan
Nasria asyik berpose berfoto-foto di Sumber. Kami dengan usil menyipratkan air
ke baju mereka, agar ikut mandi juga. Hahaha, perang air tak terelakkan lagi.
Akhirnya mereka yang sudah terlanjur basah, ikut mandi bersama kami.
Setelah gila-gilaan di
sumber,kami kembali ke rumah rudi, menyiapkan barang-barang. Sebelum berangkat
kami diberi sebungkus plastic jambu air oleh tetangga Rudi. Kamipun berkemas
menuju Garoga, wisata alam di pinggir Danau Toba.
Jalanan yang berbukit, ditumbuhi
cemara dan pinus meneduhkan perjalanan kami menuju Garoga. Tak ada asap tebal
yang terlihat, udara yang segar nan sejuk di siang itu membuat perut keroncongan.
Kami belanja indomie, kerupuk dan biscuit untuk penganjal sementara.
Monument perjuangan, sebelum
Garoga tampak gagah. Patung seorang pejuang mengendari kuda perang, senjata
digenggam erat dengan semangat membara. Dibawah patung itu, terdapat ukiran-ukiran
perjalanan sejarah Indonesia melawan penjajah. Di balik monument itu, dari
kejauhan terhampar Danau Toba yang begitu megah, dengan pulau kebanggaan, pulau
Samosir. Terlihat indah dari sisi monument ini. Tak ingin melewati momen ini
begitu saja, kami mengabadikan foto kami bersama di tempat ini. Kemudian
melanjutkan perjalanan menuju Garoga.
Sepanjang jalan menuju Garoga,
jalanan menurun, tanpa menghidupkan mesin pun laju sepeda motor sudah kencang,
jadi menghemat BBM setengah hingga satu liter.
Sesampai di Garoga, ratusan
sepeda motor dan puluhan mobil memadati ruang parkir, hamper tak ada cela untuk
parkir, sehingga tenda jualan pun yang dijadikan ruang parkir.
Kami pun segera turun menuju air
danau toba. Terdapat batu-batu besar seperti film Laskar Pelangi. Kami segera
masak indomie dibawahnya. Didalam tas ransel Arul ternyata disiapkan wajan,
priuk, kompor infuse, sutil dan minyak lampu.
Karena sisa air juga menipis,
kami masak indomie dengan menggunakan air danau toba. Sembari menunggu indomie
matang, kami mencari aqua gelas dan sendok popmie bekas, kemudian menyucinya,
karena tak ada piring.
Setelah indomie matang, masih
dalam priuk disantap beramai-ramai. Ditambah sisa krupuk yang kami beli tadi,
semakin tambah meriah pesta indomie. Walaupun perut belum kenyang, tapi karena
makan beramai-ramai, lapar tak lagi terasa.
Waktu sudah 2.30 siang, kami
harus segera cepat bergegas karena dalam agenda kami harus sampai Medan malam
ini. Setelah makan kami pun segera beranjak meninggalkan Garoga. Jalanan yang
menanjak membuat kami terpisah, namun berkumpul lagi di warung, tempat kami
belanja tadi. Dan kembali berkonvoi sesuai dengan urutan sepeda motor.
Kebetulan posisi urutanku ditengah, sesuai kesepakatan tidak boleh ada yang
saling mendahului.
Kami menempuh jalur Kabanjahe menuju Medan. Lagi-lagi gerimis mengundang ditengah perjalanan. Dan kali ini ada sedikit masalah, sepeda motor yang digunakan Arul mengalami masalah rem depan. Sehingga perjalanan sedikit diperlambat, hingga menuju bengkel terdekat. Ternyata masih jauh lagi, sekitar 10Km lagi.
Akhirnya kami temukan bengkel,
namun bengkel itu tutup karena hari libur. Kami pun memohon agar yang punya
bengkel mau memperbaiki sepeda motor Arul. Akhirnya sepeda motor Arul
diperbaiki, ternyata minyak rem dan
tapak remnya kandas. Setelah di isi dan
diganti, sepeda motornya siap untuk melanjutkan perjalanan kembali.
Waktu sudah pukul 6 sore, kami
masih belum sampai Kabanjahe. Kami percepat laju kenderaan, karena masih jauh
perjalanan yang ditempuh. Gerimis pun berubah nenjadi hujan deras, semakin
membekukan jemari tangan dan membuat kebelet pipis. Segera mencari SPBU
terdekat, untuk ke toilet dan mengisi bahan bakar.
Sampai di SPBU Kabanjahe, waktu
menunjukkan pukul 7.30 malam. Perut sudah keroncongan, kami pun memutuskan
untuk mencari rumah makan terdekat. Rumah makan bakso dekat masjid raya
Kabanjahe, menjadi pemberhentian kami. Disitu kami melepas lelah dan lapar
kami, setelah melakukan perjalanan panjang. Sekitar 3 jam lagi menuju Medan.
Jadi kami putuskan untuk agak berlama-lama disitu sembari menunggu hujan, kami
menonton piala dunia saat itu, German lawan Inggris, skor masih 1-0.
Setelah hujan reda, kami pun
bergegas pulang. Tak jauh dari kantor bupati Karo, ban arul bocor. Arul
menyorong mencari bengkel terdekat. Namun sudah 3 km kedepan juga tidak ada
bengkel tempel ban, kemudian bertanya kepada warga sekitar dimana tempat temple
ban. Eh, ternyata bengkel ban ada di dekat kantor Bupati. Kami kembali lagi
menuju kantor Bupati, Arul pun dengan semangat menyorong sepeda motornya hingga
5 km. Namun sudah tutup, saat itu jam menunjukkan pukul 9 malam, tapi tak ada
satu pun yang buka tempel ban. Kami pun berteriak memanggil, berharap ada orang
yang peduli didalam bengkel. Tapi tak ada yang menyahut, mungkin sudah tidur.
Kami kembali bertanya ke orang-orang yang ada diwarung.
“Bang, tempel ban dimana ya?”
“Mana ada lagi yang buka jam
segini dek, dah pada tutup lah”
“Dimana kira-kira yang buka 24
jam ya bang?”
“Ah, tak tau aku dek. Coba klen
cari kearah Berastagi sana, biasanya ada”
“Makasih ya bang”
“Ya, hati-hati klen dek dah
malam”
“ya bang”
Kami memutuskan agar Arul, Diah,
Dani dan Nasria untuk tetap tinggal di Kabanjahe . Sementara kami berempat
mencari bengkel tempel ban terdekat menuju arah Berastagi. Sepanjang jalan tak
terlihat sedikitpun tanda-tanda adanya bengkel tempel ban. Laju sepeda motor
sudah seperti pembalap, dengan mata liar ke kanan dan ke kiri, mencari bengkel
yang masih buka.
Setelah menempuh jarak sekitar 30
km (2 km lagi sampai di Berastagi), barulah kami temukan bengkel yang buka.
Kami pinjam kunci untuk membuka ban, sementara aku dan Ayu tetap tinggal di
bengkel menunggu mereka kembali. Hampir 2 jam kami menunggu, rasa kantuk sudah
tak tertahankan, tubuh seperti remuk dan kepala terasa berat. Kami menumpang
tidur di bengkel, sementara aku tidur di atas jok sepeda motorku dan Ayu tidur
di teras rumah pemilik bengkel.
Setelah mereka kembali membawa
ban, kami terbangun. Rinda menemani kami berdua, sementara Arul, Rudi dan Irsad
kembali memasang ban ke Kabanjahe. Setelah itu, mereka kembali ke bengkel
menjemput kami.
Waktu sudah menunjukkan pukul 2
pagi. Tak mungkin dipaksakan kembali ke Medan, kami pun memutuskan untuk ke
Debuk-debuk untuk mandi air panas yang jaraknya sekitar 4km dari Berastagi.
Sekalian melepas capek dan letih karena kejadian tadi.
Sesampainya di pemandian, kami
disungguhi pemandangan yang tak enak, mesum kaula muda di pemandian. Dani yang tak
nyaman dengan pemandangan itu, tak mau berendam dipemandian itu. Sementara aku
dan kawan-kawan yang lain sangat menikmati hangatnya air belerang.
Dani terlihat diam dan kaku, dari
sorot matanya, ingin cepat-cepat keluar dari neraka jahannam ini. Dan najis
baginya menyentuh air pemandian ini. Tak sedikit pun jemarinya menyentuh ar di
pemandian. Dia pun meminta kepada kami agar cepat mandinya, dia ingin segera
pulang.
Namun setelah mandi. Rinda, Diah
dan Rudi berkata lain ingin melihat sunrise di Sibayak. Aku, Dani dan Arul
tidak kuat lagi melanjutkan perjalanan gila itu. Sempat terjadi cekcok, namun
karena kebersamaan, semuanya kembali ke Medan pagi ini.
Adzan berkumandang, kami
melanjutkan perjalanan menuju Medan. Antara sadar atau tidak, aku mengendarai
sepeda motor. Mataku sesekali tertidur, lobang pun menghentakkanku. Mungkin
kalau tak ada lobang , aku sudah terjun bebas atau tertabrak bus borneo.
Ditengah perjalanan kami terpisah
kembali, kami kehilangan kontak. Karena hape kami pada lobet, karena satu
harian tak di charger. Aku, Arul, Nasriah, menunggu mereka di Mesjid terdekat.
Namun setelah lama menunggu, tak muncul-muncul juga mereka padahal sudah disms.
Kami sempat tertidur pulas sesaat.
Karena tak mungkin lagi mereka
dibelakang, kami lanjutkan perjalanan menuju Medan dengan kecepatan rendah,
Melihat sms mereka, ternyata mreka sudah duluan didepan kami. Dan sekarang
mereka sudah sampai di Medan. Kami segera tancap gas menyusul mereka. Sampai
rasa kantuk ini hilang diterpa angin.
Sesampai di Medan, tepatnya
dikampus . kami pun tepar dan melanjutkan tidur yang tertunda dikantor redaksi.
Perjalanan panjang telah membuat kami tak waras lagi, sampai rambut pun tak
tentu bentuknya. Tak peduli mereka yang masuk kuliah, kini kami tak sadarkan
diri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar