Oleh : Eko haryanto pada 12 Desember 2010 jam 16:57
Terang bulan aku menanti, saat semua langkah terhenti. Kesendirianku, kesunyianku, penantianku mengitari selubung otak kananku. Sesaat aku terpaku, usiaku, pengalamanku, jalanku dan semua tentang hidup ini. Membaur menghanyutkan aku dalam kesedihan, amarah dan kebahagiaan.
Sembari ku tutupkan mataku, merasakan dinginnya angin malam. Merenung apa yang telah aku jalani, aku lewati dan setapak langkah yang sedang ku cari. Hampa ntah mengapa. Hening sedu meringkih. Menangis tanpa jerit. Apakah aku tak mampu hadapi cobaan? Mustahil, Allah pasti berikan cobaan semampu umatnya.
Keangkuhan ku padaNya, telah membutakan mata hati, bahwa aku tiada lain makhluk yang tiada sempurna. Tak luput dari salah, tak luput dari dosa, sedih, maupun hina. Takbirku, Rukukku, dan Sujudku.... sering kali ku abaikan hanya karena kesibukan dunia. Bibirku lupa mengucap lapaz-lapaz dzikirMu, ayat suciMu, Pujian untukMu.
Kadang aku berfikir bahwa lebih sulit cobaan kebahagiaan dibanding dengan kesusahan. Membuat lupa, angkuh, tak sadarkan diri. Kini aku sadar bahwa dunia adalah fana, hanya sementara. Dan aku takkan lagi merasa sepi, bila aku merasa dekat dengan diriMu. Alhamdulillah atas semua anugerah yang Kau beri. Kini air mata mengalir membasuh perih luka hati ini.
Aku sadar tanpaMu, aku hanya sepenggal kisah hampa tanpa warna. Kasih, hidayah serta petunjukMu selalu ku harapkan. Walaupun tiada ku sadari, dedaunan hijau berikan aku nafas, langit biru berikan aku inspirasi, sinar mentari terangi jalanku, rembulan teman kesepianku dan semua kasih sayang adalah rinduMu kepada hamba yang tanpa daya ini.
Subhanallah, walhamdullilah, wa la illaha illallahu wallah hu akbar !!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar