Jangan Cuma cakap tapi tuangkan idemu ke dalam sebuah karya.
Tak sekedar komunitas namun karya dan prestasi juga dikembangkan di sini. Bak sekolah penulis, dalam komunitas juga diajarkan dan dilatih mempertajam dan memperbaiki tulisan menjadi lebih menarik, mempublikasikannya serta menjadikannya menjadi suatu kesenangan.
Bagi shobat yang suka nulis, suka dengan puisi-puisi maupun cerpen. Selama ini hanya sekedar mengirimkan ungkapan kepada pacar, sahabat maupun gebetan kamu. Kata-kata ungkapan hati itu dirangkai dan dikemas menjadi bahasa yang indah.
Kamu merasa bakat dan menulismu sangat besar? hingga deary pun tiap bulan ganti penuh dengan tulisan curhat, puisi ataupun lainnya? Keinginanmu untuk membuat novel atau pun cerpen tak pernah terpublikasikan dan popular. Karena hanya terbatas ditulis dan disimpan dan kemudian ditumpuk dirak. Ada baiknya kamu perlu tahu tempat tongkrongan para penulis muda kota Medan.
Taman budaya menjadi wadah penampung anak muda yang ingin mengembangkan potensi dan bakatnya, khususnya dalam bidang tulis menulis. Ada banyak sebenarnya komunitas selain FLP (Forum Lingkar Pena), seperti Komunitas Sastra Indonesia (KSI), Komunitas Home Poetry (HP), Komunitas Penulis Muda Sumatera Utara (KPM- Sumut), Komunitas Pecinta Membaca dan Berkarya Universitas Muslim Nusantara (KOMA-UMN), Komunitas Penulis Anak Kampus (Kompak), Komunitas tanpa nama (Kontan), Komunitas Mahasiswa Pecinta Sastra Indonesia (Kompensasi), Komunitas Poeisi (Kompoe), Komunitas Kun, Win’s Sharing Club (WSC), Komunitas Penulis Anak Sekolah (Kompas), dan banyak lagi.
Pingin rasanya tulisan-tulisan kita dimuat di sebuah surat kabar. Terpajang dengan semua ungkapan kata-kata yang diluapkan dalam sebuah tulisan. Dibaca dan dikagumi oleh orang lain, bahkan menjadi referensi dalam berkarya dan kita menjadi popular.
Ngomong-ngomong tentang dunia tulis menulis ada Kompak (komunitas penulis anak kampus) dan Kontan (Komunitas Tanpa Nama) yang dapat dijadikan tempat berdiskusi dan berbagi pengalaman menulis yang berada di Taman Budaya Medan.
Dua komunitas ini adalah komunitas yang cukup dikenal produktif di kota Medan selain FLP (Forum Lingkar Pena). Karya tulis mereka yang sering dimuat di media massa dan mereka juga melakukan kegiatan-kegiatan pelatihan sastra.
Mengingat kurangnya minat masyarakat khususnya mahasiswa dalam dunia tulis menulis, perlu keberadaan wadah untuk meyalurkan bakat dan potensi. Mungkin anda juga tertarik ketika menelisik kegiatan mereka, dalam upaya peningkatan minat dan potensi menulis mahasiswa. So, mari kita simak bagaimana kegigihan mereka dari awal dibentuk hingga sekarang. Mudah-mudahan menjadi masukan bagi anda yang hobi menulis dan ingin menambah pengalaman dalam dunia menulis.
KOMPAK dalam berkarya
Kompak (komunitas penulis anak kampus) yang awalnya didirikan pada tanggal 23 Desember 2008. Didirikan oleh 4 orang mahasiswa, yaitu Dani Sukma, Rudi Hartono, Sri Rizki Handayani dan Budianto. Sekretariat mereka di Taman Baca Sumatera Utara (TBSU) yang berada di jalan Perintis Kemerdekaan No. 33 Medan.
Adapun yang melatarbelakangi komunitas ini dibentuk, menurut Rudi Hartono, salah satu pendiri kompak, “Karena kegelisahan jiwa dalam dunia penulisan, lagian pada masa dulu komunitas kecil sangat jarang sekali, sejak itu kami putuskan untuk membuat wadah untuk kepenulisan terutama kepada mahasiswa, karena banyak kali kawan-kawan yang kurang memahami dan kurang mau tahu, padahal menulis sangat erat sekali dengan kegiatan mahasiswa.”
“Jumlah pengagum sastra hanya sebagian kecil saja, tidak semua orang menyukai sastra. Dan wadah untuk meningkatkan kemampuan dan bakat penyair-penyair muda sangatlah kurang diperhatikan, adanya komunitas kecil sangat mempengaruhi tingkat kematangan dan dapat mengukur sejauh mana kemampuan kita dalam menulis” tambah Dani selaku staff ahli Kompak.
Sepertinya komunitas-komunitas lain, tentunya mempunyai kegiatan dan struktur organisasi yang gak sama. Melakukan pergantian pengurus setipa tahunnya, tujuannya adalah untuk beregenerasi.
Pelatihan intern dilakukan setiap hari sabtu, mendiskusikan mengenai tulisan-tulisan karya kawan-kawan kemudian dikoreksi bagian mana yang salah dan diperbaiki, kata-kata apa yang layak dan angle yang sebaiknya digunakan dalam penulisan, dengan asuhan Antilan Purba, selaku pemerhati kepenulisan. Kini KOMPAK beranggotakan 30 orang, yang berasal dari mahasiswa Unimed, UISU, Microskill, UMSU dan IAIN-SU.
Selain berdiskusi tentang karya tulis, mereka juga mengadakan kegiatan lainnya seperti perlombaan dan pementasan puisi dan cerpen, serta pelatihan karya tulis untuk umum. Kegiatan serupa akan digelar pekan depan pada tanggal 25-27 November 2010 di Gedung Pameran Taman Budaya Sumatera Utara. Dalam acara Festival Puisi dan Cerita Pendek Indonesia, yang diikuti oleh berbagai daerah.
Dunia menulis seolah sudah menjadi kenikmatan tersendiri bagi Dani selaku staff ahli Kompak, menulis sudah menjadi bagian dari hidupnya. Setiap hari tangannya tak pernah lepas menuliskan puisi, “menulis tidak tergantung pada mood, yang biasanya menjadi kelemahan para penulis. Sebenarnya disaat badmood pun tulisan bisa menjadi lebih baik, karena menumpahkan semua masalah dan beban di hati dalam bentuk kata-kata, sebuah jalan solusi dalam mengatasi masalah, meringankan kekesalan dan kebencian di jiwa.”
Dalam menulis ada tips-tips yang diberikan oleh Dani yaitu :
1.Penulis baik adalah pembaca yang baik, seorang penulis harus rajin membaca
untuk menambah kosa kata dalam proses kepenulisannya
2.Penulis yang baik adalah pendengar yang baik, artinya belajarlah atau bergurulah
kepada orang-orang yang lebih berpengalaman dari kita
3.Penulis yang baik adalah pengembara yang baik, kita berusaha untuk menggali
potensi yang ada didalam diri kita melalui proses pengembaraan hingga menemukan
rumah singgah yang cocok untuk menampung diri kita, salah satunya dengan bergabung
dengan komunitas menulis.
Menulis menjadi suatu kesenangan
Banyak orang berfikir menulis itu susah, menyimpulkan tulisan sebagai suatu bakat yang terpendam didalam diri seseorang yang sudah ada sejak dia lahir. Sebenarnya menulis dapat dipelajari bukan karena bakat dari lahir namun juga pengalamanan membaca dan juga sering menulis.
Banyak buku-buku yang mendukung dan juga komunitas-komunitas yang dapat dijadikan pendamping untuk membuat suatu karya tulisan. Sehingga memperkaya pebendaharaan kata-kata dan juga wawasan kamu.
Menulislah apa yang kamu pikirkan saat ini, dan tuangkan dalam tulisan. Jangan pernah takut untuk salah, karena kesalahan merupakan suatu langkah menuju kebenaran. Dan jangan pernah takut untuk dikritik. Jadikan tulisan itu media atau alat komunikasi untuk menyampaikan sesuatu.
Seperti Kontan (Komunitas Tanpa Nama), sebuah komunitas yang didirikan 9 Agustus 2010 lalu oleh mahasiswa-mahasiswa yang hobi menulis. Mereka tergabung dalam sebuah wadah kecil, tempat diskusi mereka berada di pelataran parkir Auditorium Universitas Negeri Medan. Pegagasnya adalah Rudiansyah Siregar, Robi Subrata, Sartika sari, Ayu Harahap, Mhd. Muslim Bahri, dan Muklis Al Anshor.
Seperti halnya dengan komunitas lainnya, kegiatan Kontan tak terlepas dari dunia tulis menulis, uniknya kegiatan komunitas ini mengandalkan keteduhan alam sekitar. Ya, mereka sering nongkrong di depan Auditorium Unimed dan terkadang berpindah-pindah sesuai keinginan anggota.
Komunitas yang terbilang masih bau kencur ini, memiliki 19 orang anggota. Tak ada kantor atapun sekretariat, mereka sering berpindah-pindah, jadi banyak yang tak tau keberadaan komunitas ini.
“Semangat menulis bukan ditentukan dimana tempat kita menulis,melainkan imajinasi dan daya cipta kita membuat suatu penggambaran tulisan. Apa yang menurut kita nyaman untuk menulis, kita kembali ke alam,” cetus Rudi selaku pendiri sekaligus ketua Kontan.
Anak-anak Kontan memiliki motivasi kuat, membuat tulisan-tulisan mereka agar layak dimuat di surat kabar/Koran lokal maupun nasional. Sehingga untuk menuju hal itu, mereka sering melakukan sharing kepada teman-teman penulis lainnya. Melakukan koreksi tulisan mereka, dan sering setiap minggu mereka mengirimkan karya-karya mereka berupa puisi dan cerpen ke media massa, tak jarang mereka juga mengikuti even-even cipta dan pementasan puisi.
“Dalam komunitas kita berbagi pegalaman sesama penulis adalah hal yang menyenangkan, kita dapat mendiskusikan dan mengukur sejauhmana tingkat ketajaman penulisan, kesalahan-kesalahan yang ada pada tulisan dan banyak lagi yang dapat membangun tulisan kita menjadi lebih baik,” ujar Robi.
Begitulah, tenyata kita sudah berkombur dalam tulis menulis ada keasyikan didalamnya. Mungkin shobat banyak yang hobi menulis, namun ada yang belum tau bagaimana mengembangkan potensi kepenulisan yang melekat didalam dirinya. Nah sekarang mulai galilah tulisan-tulisan anda dan diskusikan dengan teman-teman, atau ikutan nimbrung di komunitas penulis Medan. Sapa tau kamu nantinya jadi penulis handal dan terkenal.
gimana cara gabungnya kk,,????
BalasHapusgimana cara gabungny kk??
BalasHapuscara gabungnya gimana ?
BalasHapuskekmana cara gabungnya?
BalasHapus